Peningkatan Pengetahuan Keuangan Hijau dan Implementasi Green Manufacturing pada UKM Handmade di Bali

(Foto/ist) Pemberian materi kepada UKM di kegiatan pelatihan di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, pada Sabtu (5/7/2025).

(WARTADEWATA.COM) DENPASAR – Peningkatan industri dibarengi dengan peningkatan limbah dari proses produksi yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Terjadi kontradiksi antara peningkatan industri menuju pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Pembangunan berkelanjutan dan green economy sebagai upaya penyelamatan lingkungan serta mendukung peningkatan industri. 

Untuk mewujudkan green economy, UKM sebagai entitas industri yang memiliki peran penting dalam peningkatan roda perekonomian serta menjaga sustainability, diarahkan untuk mengadopsi keuangan hijau (green finance) sebagai salah satu bantuan pembiayaan yang dirancang dalam mendukung proyek-proyek yang berkelanjutan dan ramah lingkungan yang ditujukan untuk pembiayaan dalam penerapan teknologi ataupun inovasi pengelolaan limbah serta proses produksi yang ramah lingkungan dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals /SDGs). 

UKM Handmade di Provinsi Bali masih menggunakan bahan lokal, sehingga berpotensi menghasilkan produk kerajinan ramah lingkungan, berkualitas internasional, serta berdaya saing global. Masalah yang dihadapi UKM Handmade adalah penggunaan bahan lokal dan daur ulang sampah industri menjadi produk baru memerlukan biaya tinggi, sehingga berdampak pada struktur keuangan dan kesulitan keuangan karena kebutuhan modal yang lebih tinggi, persaingan yang ketat, serta penanggulangan limbah industri yang belum terorganisir. 

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat yang diketuai Dr. Ni Putu Santi Suryantini, dengan anggota Dr. I Nyoman Mahaendra Yasa, S.E., M.Si. dan Prof. Dr. I Wayan Edi Arsawan, SE., MM. dengan melibatkan dua mahasiswa yaitu Ni Luh Putri Frida Ayuni dan Ni Kadek Anissa Pradnyadewi, melalui DPPM Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dengan Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) melalui Program DPPM Kemensaintekdikti, berusaha memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tujuan dari PKM ini adalah untuk memberdayakan mitra sasaran dari kelompok masyarakat umum yaitu UKM Handmade untuk bisa lebih produktif dan berkelanjutan.

Adapun pelaksaan PKM dari program ini yaitu Pelatihan & Teknologi. Dalam program hibah ini, ada dua fokus utama yang diberikan kepada UKM handmade di Bali yakni Pelatihan Persiapan Pengajuan Green Finance. Pelatihan ini membekali UKM dengan keterampilan menyusun profil usaha berbasis keberlanjutan. Tujuannya, agar pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk mengakses pembiayaan ramah lingkungan dari bank.

(Foto/ist) Pelaksanaan kegiatan pelatihan di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, pada Sabtu (5/7/2025).

Inovasi Teknologi Oven Ramah Lingkungan.

Oven ini bukan hanya meningkatkan kualitas produk handmade, tetapi juga membantu UKM mengurangi limbah produksi. Sampah yang dihasilkan justru dimanfaatkan sebagai bahan bakar (reuse), sehingga sejalan dengan konsep circular economy.

Pelatihan Berskala Besar.

Pelatihan berlangsung pada Sabtu, 5 Juli 2025 di Aula BH Kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, mengangkat tema “Persiapan Pengajuan Green Finance”, yang menghadirkan 2 narasumber. Narasumber pertama dari Akademisi Prof. Dr. I Wayan Edi Arsawan, SE., MM. merupakan Dosen Politeknik Negeri Bali yang memiliki publikasi dan penelitian dibidang green economy dan sustainability. Narasumber kedua dari Bank Mandiri yaitu Octavianus Sihombing.

Peserta Pelatihan adalah UKM handmade sebanyak 135 yang tergabung dalam komunitas Bali Loves Handmade hadir membawa semangat besar untuk belajar. Beberapa peserta bahkan membawa contoh produk kerajinan mereka mulai dari tas serat alam hingga aksesori daur ulang yang kemudian menjadi bahan diskusi dalam sesi praktik.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan paparan narasumber, tetapi juga aktif bertanya tentang tantangan yang mereka hadapi dalam usaha sehari-hari. 

Octavianus Sihombing menanggapi pertanyaan peserta dengan contoh konkret, termasuk strategi agar UKM bisa lebih mudah mengakses pembiayaan hijau.

Yang paling menarik, peserta diajak langsung mencoba menyusun profil usaha berbasis keberlanjutan. Dalam kelompok kecil, mereka mendiskusikan bagaimana menonjolkan aspek ramah lingkungan dari produk masing-masing untuk dapat mencapai keunggulan bersaing berkelanjutan.

(Foto/ist) Sesi diskusi dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, pada Sabtu (5/7/2025).

Pendampingan Teknologi di Lapangan.

Kegiatan PKM dilanjutkan dengan pendampingan kepada mitra sasaran yaitu TSDC sebagai salah satu UKM Handmade. Pendampingan dilakukan pada awal Agustus 2025, yaitu pembuatan oven ramah lingkungan sebagai implementasi dalam penerapan green manufacturing.

Pembuatan oven ini bertujuan untuk peningkatan kualitas produk handmade yaitu proses pengeringan dalam oven. Selain meningkatkan kualitas produk, pembuatan oven ini juga sebagai salah satu bentuk penerapan green manufacturing karena bahan bakar oven adalah sampah serat dari proses produksi kerajinan. Proses ini ditargetkan rampung dalam tujuh hari.

Suara Penyelenggara dan Peserta.

“Melalui hibah PKM ini, kami ingin UKM Handmade di Bali tidak hanya kuat secara bisnis, tetapi juga menjadi pionir dalam praktik ramah lingkungan. Harapannya, semakin banyak UKM yang bisa mengakses green finance dan membawa dampak positif bagi masyarakat dengan menerapkan green manufacturing,” ujar Ni Putu Santi Suryantini, Ketua Tim pengabdian Universitas Udayana.

Sementara itu, Ni Wayan Sri Mustika Dewi, SE., Owener dari TSDC Store, menyambut baik program ini. “Bantuan oven sangat kami butuhkan untuk meningkatkan kualitas produk. Selama ini kami masih mengandalkan cara tradisional. Dengan adanya pelatihan ini kami jadi lebih paham bagaimana menyusun profil usaha agar bisa mengakses pembiayaan hijau, serta dengan pendampingan dalam pengeloaan limbah dengan penerapan green finance. Kami menjadi paham bagaimana menggunakan limbah untuk dapat digunakan kembali untui peningkatan kualitas produk,” ungkap Sri Mustika Dewi.

(Foto/ist) Pemberian materi kepada UKM di kegiatan pelatihan di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, pada Sabtu (5/7/2025).

Harapan untuk UKM Bali.

Program hibah PKM ini diharapkan menjadi titik balik bagi UKM Handmade di Bali untuk melangkah ke arah bisnis berkelanjutan. Dengan kualitas produk yang meningkat dan akses ke pembiayaan hijau yang lebih luas, peluang ekspansi global terbuka semakin lebar.

Selain itu, program ini juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, membuka lapangan kerja baru, dan menjaga keseimbangan antara ekonomi kreatif serta kelestarian lingkungan di Pulau Dewata.(ist)

Scroll to Top