CGBio Sukses Gelar Simposium Estetika Global ‘Meet the Masters’ di Bali

(Foto/ist) Tampak suasana Masters in Bali 2025' di Grand Mercure Seminyak, pada Sabtu (18/10/2025).

(WARTADEWATA.COM) BADUNG – Simposium global ‘Beyond Aesthetics, Meet the Masters in Bali 2025’ oleh CGBio sukses terselenggara di Bali. Diawali dengan seminar K-DOCTOR pada Jumat (17/10/2025) di NuLook Clinic, dan kemudian dilanjutkan acara simposium ilmiah pada Sabtu (18/10/2025) di Grand Mercure Seminyak, Badung – Bali. Simposium global ‘Beyond Aesthetics, Meet the Masters in Bali 2025’ menghadirkan beberapa narasumber yakni Danny Lee, Head of Global Business Division, CGBio, Dr. Matheus Kasai Volpi Dermatologia Clinic – São Paulo, Brazil, Dr. Erivan, medical director, Dorsia Portugal, Dr. Moonseop Choi, GRACE Plastic Surgery, Mr. Bassam, Sales Director – Vitatek, Middle East Partner dan Dokter Estetika Indonesia dr. Phery Cendres, M. Biomed (AAM) serta dr. Hardiono Teddy Saputra, M. Biomed (AAM)

Meet the Masters merupakan salah satu simposium akademik global terbesar dari CGBio, yang mempertemukan para ahli terkemuka di bidang tulang belakang, ortopedi, perawatan luka, dan estetika untuk berbagi inovasi perawatan serta wawasan klinis terkini. Program ini dirancang dengan fokus edukatif yang kuat, memberikan kesempatan bagi dokter untuk menyaksikan prosedur langsung, memperoleh pengalaman praktik, dan mempelajari teknik standar.

Head of Global Business Division CGBio, Danny Lee mengungkapkan, gelaran ini merupakan kali ketiga Meet the Masters dilaksanakan di Bali. Dan dipastikan, selalu ada peningkatan di tiap kali pelaksanaannya. “Skala acara semakin berkembang. Dan di tahun ini, ada lebih dari 20 negara dan ratusan sarjana bedah plastik kecantikan yang ikut serta dalam acara ini,” ungkapnya.

Bali dipilih bukan hanya karena reputasinya sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga karena lokasi NuLook Clinic yang dioperasikan oleh Daewoong Group.

Dengan menggabungkan sesi akademik simposium dan seminar praktikal NuLook, acara ini menghadirkan lingkungan pelatihan klinis nyata. Kolaborasi unik ini menjadikan Bali sebagai pusat penting bagi industri medis dan estetika di Asia Tenggara.

Simposium ini terbagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama menampikan presentasi makalah ilmiah yang membahas inovasi estetika terbaru dari CGBio. Sesi kedua dan ketiga menghadirkan pakar dari Korea, Eropa, dan Amerika Latin (wilayah yang menjadi pelopor tren estetika global), untuk berbagi wawasan mengenai kombinasi perawatan wajah dan tubuh. Melalui rangkaian ini, para peserta, termasuk banyak dokter dari Indonesia, memperoleh pemahaman menyeluruh tentang prosedur multimodal dan pembaruan klinis global terkini.

Program pendidikan dan pelatihan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan ilmiah dan klinis para dokter Indonesia. Terutama dalam memahami dasar ilmiah K-Beauty, tren perawatan kombinasi global, serta teknik praktikal yang terstandar. Dalam jangka panjang, kegiatan ini diperkirakan akan meningkatkan standar kedokteran estetika di Indonesia, dan memperkuat kolaborasi antara pakar lokal dan internasional.

Menurut Danny Lee, Bisnis estetika CGBio, mencatat pertumbuhan tahunan lebih dari 50 persen, dengan ekspor ke sekitar 30 negara di seluruh dunia. Perusahaan saat ini sedang dalam proses pendaftaran produk di lebih dari 20 pasar baru, dan menargetkan ekspansi ke lebih dari 50 negara pada tahun mendatang.

Selain portfolio yang mencakup filler, toksin, dan benang pengencang, CGBio juga tengah mengembangkan produk baru yang sejalan dengan tren global menuju perawatan kombinasi estetika, seperti biostimulator, solusi anti-penuaan, dan inovasi berbasis sel punca.

“Pertumbuhan didukung oleh tiga faktor utama. Pertama, komitmen terhadap produk berkualitas tinggi yang aman dan unggul secara teknologi, sehingga diakui di berbagai kawasan dunia. Kedua, fondasi akademik yang kuat melalui penelitian klinis mendalam yang membuktikan efektivitas konsep perawatan kombinasi estetika. Ketiga, pelaksanaan program pendidikan berkelanjutan melalui platform seperti CG Institute, yang menyelenggarakan program Meet the Masters dan Cadaver Workshop untuk memenuhi kebutuhan akademik dan praktikal para dokter,” jelas Danny Lee.

Indonesia, kata Danny Lee, memiliki posisi strategis dalam jaringan global CGBio. Melalui NuLook Clinic, CGBio secara rutin mengadakan K-Seminar bagi dokter lokal, menyediakan layanan konsultasi untuk pasien Indonesia, dan menjadi pusat pelatihan regional bagi tenaga medis internasional. Inisiatif-inisiatif ini menjadikan Indonesia jembatan penting yang menghubungkan keahlian CGBio dengan pasar Asia Tenggara yang lebih luas. 

Sementara Dr. Mantheus Kasai (Brazil) – Clinical Research on Facetem, menyoroti tren global dan temuan ilmiah terbaru mengenai penggunaan kombinasi kalsium hidroksiapatit (CaHa) dan asam hialuronat (HA) dalam prosedur pembentukan bokong.

Sesi ini menampilkan hasil klinis nyata dan menjelaskan bagaimana sinergi antara CaHa dan HA menghasilkan hasil estetika yang lebih seimbang dan alami.

‘Meet the Masters’ berfungsi sebagai wadah internasional bagi para ahli estetika dari seluruh dunia untuk berbagi data klinis nyata dan mendiskusikan paradigma perawatan terbaru. Kehadiran riset dari Brasil dalam program tahun ini menunjukkan relevansi global dari terapi kombinasi dalam membentuk praktik estetika modern.

“Kombinasi CaHa dan HA memberikan dukungan struktural sekaligus penyempurnaan kontur, menjadi alternatif efektif terhadap prosedur bedah. Teknik ini memungkinkan pemulihan yang lebih cepat dan hasil yang dapat disesuaikan, menandai kemajuan penting dalam tren global pembentukan tubuh non-bedah,” ujar Mantheus.

Di tempat yang sama, Dr. Erivan (Portugal) mengungkap tentang alasan memperluas penggunaan Facetem ke area tubuh selain wajah.

“Perluasan penggunaan Facetem ke area tubuh didorong oleh meningkatnya kebutuhan klinis untuk menangani kekenduran dan penuaan kulit tidak hanya di wajah, tetapi juga di area leher, perut, dan lengan. Dengan menggunakan satu teknologi yang mampu menangani berbagai area tubuh, dokter dapat memperoleh hasil regeneratif dan pengencangan yang lebih konsisten serta efisien,” kata Erivan.

Observasi klinis menunjukkan bahwa area perut dan lengan atas memberikan hasil regeneratif dan pengencangan yang paling terlihat. Bagian tubuh dengan ketebalan jaringan sedang cenderung memberikan respons terbaik, menghasilkan tekstur kulit yang lebih halus dan elastisitas yang meningkat.

“Selama beberapa edisi simposium, minat terhadap penerapan teknologi Facetem terus meningkat. Para dokter menunjukkan keterlibatan yang semakin tinggi dengan meminta diskusi teknis yang lebih mendalam, sesi praktik langsung, serta kolaborasi berkelanjutan untuk memperluas penerapannya dalam praktik klinis,” ungkap Erivan.

Sedangkan Dr. Moon Seob Choi (Korea) memaparkan alasan menggabungkan SVF dan sel punca dalam prosedur fat grafting.

“Integrasi antara SVF (stromal vascular fraction) dan sel punca dengan prosedur fat grafting dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan fat grafting konvensional dalam hal regenerasi jaringan dan daya tahan hasil. Melalui kombinasi komponen biologis ini, prosedur menghasilkan struktur jaringan yang lebih padat dan stabil, dengan hasil yang bertahan lebih lama,” jelas Moon Seob Choi.

“Protokol keamanan yang ketat diterapkan selama seluruh proses, termasuk menjaga kondisi steril, memastikan viabilitas sel, dan menghindari penyuntikan berlebihan.

Pemantauan berkelanjutan terhadap respons jaringan menjadi hal penting, dan perawatan diberikan menggunakan dosis efektif minimal untuk menjamin efektivitas sekaligus keselamatan pasien,” tambah Moon Seob Choi.

Kedokteran regeneratif diperkirakan akan menjadi pusat dari evolusi berikutnya dalam dunia estetika. Fokus industri kini beralih dari sekadar pengisian volume menuju regenerasi jaringan yang sebenarnya dan terapi yang dipersonalisasi, di mana teknologi SVF dan sel punca akan menjadi faktor kunci dari transformasi tersebut.

Bassam (Sales Director, Vitatek – Middle East Partner) menjelaskan pengalaman mendistribusikan produk CGBio di pasar Timur Tengah. Di kawasan Timur Tengah, permintaan terhadap produk estetika medis yang berkualitas tinggi dan aman terus meningkat. Produk CGBio diterima dengan baik di wilayah ini berkat performa teknis yang terbukti, keandalan klinis, serta dukungan ilmiah yang kuat.

Untuk meningkatkan pemahaman klinis, klinik-klinik lokal didukung melalui program pelatihan rutin, workshop, dan webinar. Sesi-sesi ini berfokus pada mekanisme kerja produk, protokol penggunaan yang benar, serta metode integrasi produk CGBio dalam prosedur kombinasi perawatan.

“Tantangan utama di kawasan ini mencakup proses regulasi dan pembangunan kepercayaan di kalangan komunitas medis. Namun, wilayah ini memiliki potensi besar sebagai pasar estetika premium, dengan peluang pertumbuhan pesat melalui kolaborasi berbasis edukasi dan kemitraan strategis,” tutup Bassam.(pur)

Scroll to Top