Ruditha Hartawan, Sosok Pejuang Peduli Sampah Menuai Prestasi

I Komang Ruditha Hartawan, Ketua  TPST-3R Desa Adat Seminyak.

Berpenampilan kalem namun ambisi untuk mengentaskan masalah sampah di lingkungannya tersirat kuat di wajahnya.
(WARTADEWATA.COM) – Berbagai pihak sudah melakukan banyak aktivitas guna mengkampanyekan agar menjaga kebersihan lingkungan, salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Nah, sosok I Komang Ruditha Hartawan ternyata sukses membidani lahirnya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Refuse, Reduce, Recycle (TPST-3R) di Desa Adat Seminyak, Kecamatan Kuta yang familiar disebut TPST-3R Seminyak Clean. Dan Ruditha Hartawan kini duduk sebagai Ketua  TPST-3R Desa Adat Seminyak. Bersama TPST-3R Seminyak Clean Ruditha Hartawan sudah melakukan banyak hal guna ikut mengentaskan persoalan sampah di wilayahnya.
Tampak TPST 3-R Desa Adat Seminyak, Kuta-Badung.
Berdiri sejak tahun 2003, TPST-3R Seminyak Clean merupakan tempat pengolahan sampah berbasis kearifan lokal terpadu pertama yang dikelola secara mandiri di Bali. TPST-3R Seminyak Clean berdiri di atas lahan seluas 15 are dengan status tanah 3 are milik desa adat dan 12 are milik Pemprov Bali, dengan status sewa. TPST-3R Seminyak Clean saat awal terbentuk, hanya beroperasi dengan menggunakan gerobak, bersama 6 orang tim. Tentu saat itu, penanganan sampah sangat berat dan pastinya sangat Kewalahan. Pasalnya, setiap musim angin barat, sampah kiriman selalu memenuhi pantai. Setelah adanya support dari Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia, dengan alat berat serta dari pemerintah kabupaten badung, penanganan sampah di pantai kemudian mulai sedikit terbantu.
Dulu di pantai Seminyak banyak tumpukan sampah akibat belum adanya sistem pengelolaan sampah yang dimiliki. Namun sekarang ini saat musim sampah, sudah mulai  jarang wilayah Seminyak ada sampah. Karena, dalam penanganan sampah di Pantai bekerja sama dengan pedagang pantai, hotel maupun restoran, untuk berpartisipasi dalam pembersihan sampah. Dengan kondisi pantai seminyak yang menjadi lokasi pariwisata yang setiap saat mendapat sampah kiriman, tentu merupakan pertaruhan pada wisatawan bila tak ditangani dengan baik. Saat ini TPST-3R Seminyak Clean berkembang amat pesat dengan jumlah pelanggan sekitar 1.800 pelanggan, jelas Ruditha.
Ditambahkan, dengan dikelola secara mandiri, TPST 3R Seminyak Clean kini memiliki armada 16 truk dan pick-up, dan dua loader, dengan tanaga kerja sebanyak 48 orang. TPST 3R Seminyak Clean ternyata mampu juga mengolah sampah hingga puluhan ton per hari. Total sampah yang dikelola tersebut sebagian besar sampah organik yang lalu diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik dipilah serta dicacah kemudian dijual. Hasil kompos olahan dijual kembali kepada semua jasa pariwisata yang punya taman di Desa Adat Seminyak, sedangkan hasil penjualan kompos maupun bank sampah dipakai menutup biaya oprasional TPST 3R Seminyak Clean agar konsisten dalam memberi pelayanan kepada masyarakat, tambah Ruditha.
I Komang Ruditha Hartawan yang akrab disapa Koming menuturkan, TPST-3R Seminyak Clean ini melayani transportasi langsung berbasis sumber seperti sampah rumah tangga, hingga sampah wisata seperti hotel, vila, resto dan usaha lainnya di Desa Adat Seminyak dan sekitarnya.
Dengan berbasis sumbernya langsung maka pemilahan sesuai jenisnya mudah dilakukan, yaitu sampah organik dan anorganik. Hal ini bisa mengurangi dampak residu di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Dari hasil pemilahan tersebut disalurkan kembali menjadi pupuk kompos yang disalurkan ke berbagai akomodasi wisata yang memiliki kebun, serta pakan ternak yang disalurkan kepada kelompok ternak di sekitaran TPA Suwung sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap peternakan dengan keberadaan TPA tersebut.TPST-3R ini memiliki tugas melayani sampah di 478 rumah tangga dan 874 akomodasi wisata wilayah Seminyak dan sekitarnya tentu memilik beban operasional yang tidak ringan, tetapi melalui pengelolaan yang tepat maka semuanya dapat teratasi, tuturnya.
Diungkapkan “Sumber dana kami dapat dari iuran masyarakat serta subsidi dari usaha-usaha besar seperti perhotelan dan penjualan kompos, dengan pendapatan mencapai Rp180 juta perbulan yang kami gunakan untuk membiayai operasional yang melibatkan sebanyak 48 orang tenaga yang mengoperasikan armada pengangkut dan pengoperasian peralatan TPST,” ungkap Ruditha.
Ditunjukkan produk daur ulang dari sampah.
Ia juga menjelaskan bantuan mesin dalang (daur ulang) juga melengkapi 25 peralatan yang telah ada untuk pengolahan sampah menjadi lebih baik lagi untuk wilayahnya. Mesin tersebut yang menghasilkan langsung berupa produk jadi yaitu pupuk organik dan produk baru berupa papan dan balok yang juga bisa dikembangkan menjadi produk lainnya. “Balok dan Papan yang kami hasilkan langsung kami buat ornamen atau karya seni seperti seni pahat, seni ukir dan seni lukis serta lainnya. Produk hasil output pengolahan sampah dari mesin daur ulang yang berupa papan dan balok ini merupakan media baru bagi para seniman Bali, khususnya di wilayah kami di Seminyak, Badung,” jelas Ruditha.
Dengan adanya mesin daur ulang maka bisa meningkatkan produktifitas pengelolaan sampah secara optimal yang menghasilkan produk baru dari daur ulang tersebut. Harapannya akan tumbuh usaha-usaha kecil menengah yang baru sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat.
Tidak hanya mengelola sampah saja, beragam manfaat juga dihadirkan. Salah satunya berupa program lingkungan pendidikan yang menyasar siswa SD, SMP, SMA dan berbagai kelompok swadaya masyarakat di Bali. Hal ini membawa pesan pentingnya sampah dikelola dengan baik agar tidak mempengaruhi lingkungan.
“Selain itu ada program ‘Beach Clean Up’ dengan memberdayakan masyarakat pesisir Seminyak untuk menjaga kebersihan, mengingat pantai merupakan salah satu daerah tujuan wisata dan juga sejak tahun 2007 kami mendapatkan dukungan dari Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia berupa traktor, mesin pembersih pantai serta dana operasional hal ini sebagai bentuk sinergi dalam menjaga kebersihan lingkungan,” papar Ruditha.
Sebagai catatan, di Bali ada juga Komunitas Malu Dong didirikan oleh Komang Sudiarta yang punya misi mengikis budaya nyampah di Pulau Dewata dengan aksi nyata. Seiring berjalannya waktu, bendera komunitas Malu Dong juga semakin banyak berkibar di banjar-banjar, komunitas terkecil di Bali. Komunitas peduli sampah yang namanya semakin populer di kalangan anak-anak muda Pulau Dewata ini berhasil menemukan strategi sederhana, tapi cukup mengena untuk menyentil perilaku warga yang gemar membuang sampah sembarangan. Kegiatan utama Malu Dong memang membersihkan sampah. Tiap minggu melakukan aksi pembersihan sampah di Pantai hingga pegunungan. istilah lainnya Nyegara Gunung.
Corporate Affairs Manager Coca-Cola Europacific Partners Indonesia Balinusa Operations, I Made Pranata Wibawa.
Corporate Affairs Manager Coca-Cola Europacific Partners Indonesia Balinusa Operations, I Made Pranata Wibawa saat gelaran Coke Tour 2.0 “Komitmen Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat” bersama jurnalis, Rabu (31/08/2022), di TPST-3R Seminyak, Kuta mengatakan “Sebagai tuan rumah presidensi G20, salah satu poin penting yang harus segera diselesaikan mencakup penanganan dan pengelolaan sampah. Belum maksimalnya pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Suwung, melahirkan kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019, dimana penyelesaian persoalan sampah akan dilakukan di sumber (desa). Seluruh desa di Bali didorong untuk melakukan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pendekatan 3R (reduce, reuse, recycle) yang implementasinya diproses oleh Tempat Pengelolaan Sampah berbasis 3R (TPS-3R). Kebutuhan untuk mengurangi pemrosesan sampah di TPA akan berhasil jika masyarakat sudah maksimal dalam menerapkan pemilahan sampah mulai dari rumah tangga dengan metode pengurangan penggunaan barang sekali pakai (reduce), pemanfaatan kembali barang yang masih bernilai (reuse), dan pengolahan sampah menjadi produk baru yang bermanfaat (recycle). Namun efektivitas sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini pun jika diamati masih menemui banyak kendala dalam penerapannya terutama perihal aktivitas pemilahan sampah pada sumbernya,” ujar Pranata Wibawa.(pur)

Scroll to Top