Amarawati Art Community ramaikan Griya Santrian Gallery Sanur

(Foto/purnadha) Griya Santrian Gallery Sanur dipenuhi pengunjung untuk menyaksikan pameran lukisan bertajuk "Nadi Cita Tampaksiring" pada Jumat (14/11/2025).

(WARTADEWATA.COM) DENPASAR – Amarawati Art Community ramaikan Griya Santrian Gallery Sanur dengan menggelar pameran bersama di Griya Santrian Gallery Sanur bertajuk “Nadi Cita Tampaksiring”. Dalam pameran kali ini menyajikan 43 lukisan dan 34 karya tiga dimensi. Pembukaan pameran tersebut dilakukan pada Jumat (14/11/2025) di hadiri Pemilik Griya Santrian Gallery Sanur Ida Bagus Gede Sidharta Putra serta seniman Tampaksiring.

Dalam kata sambutannya, Ida Bagus Gede Sidharta Putra menyampaikan keanekaragaman bentuk kesenirupaan yang ada di Bali adalah warisan yang tak ternilai bagi peradaban Bali, ujarnya.

Ia mengatakan Griya Santrian Gallery selalu berupaya memberi ruang bagi segenap perkembangan seni rupa tersebut. Apa yang ditampilkan oleh para perupa yang tergabung dalam Amarawati Art Community Tampaksiring, pada pameran “Nadi Cita Tampaksiring” menunjukkan keragaman bentuk, media, dan artistik yang mencerminkan bagaimana dinamika kreativitas pelaku seni rupa yang ada di Tampaksiring.

Pameran yang tidak hanya membawa identitas personal perupanya tapi sebentuk dedikasi atas khasanah budaya visual yang berkembang di tanah kelahiran mereka yakni Tampaksiring.

“Maka dalam pameran kali ini kita melihat lukisan, patung, instalasi, ukiran tulang, hingga ogoh ogoh khas Tampaksiring, sebagai wahana untuk kita melihat bagaimana iklim seni rupa di Tampaksiring memberi warna tersendiri bagi seni rupa Bali, jelasnya. 

Sementara Kuratorial Made Susanta Dwitanaya dan Savitri di Sanur-Bali pada Jumat (14/11/2025) mengungkapkan, di jagat agung (macrocosmos), nadi adalah aliran sungai, sedangkan di jagat alit (microcosmos), nadi adalah jalur-jalur pembuluh darah, dan dalam dimensi yang lebih halus, nadi adalah aliran energi. Nadi dalam bahasa Bali juga bermakna menjadi, atau berjiwa. Dengan itu, Nadi Cita Tampaksiring dimaknai sebagai aliran kreativitas perupa Tampaksiring, ungkapnya.

Sebelumnya, Susanta menceritakan bahwa Ida Bagus Grebuak salah satu seniman Tampaksiring yang berkarya pada era 1930-an, dimana dua dari karya saat ini tersimpan di museum Volkenkunde Belanda dan di beberapa pura yang tersebar di kawasan Tampaksiring.

Dalam pameran yang berlangsung di Danes Art Veranda pada tahun 2018 tersebut para perupa Amarawati Art Community Tampaksiring menghadirkan karya-karya yang secara tematik berangkat dari pembacaan atas karya-karya Ida Bagus Grebuak.

Selanjutnya Susanta mengatakan aliran kreativitas yang tumbuh dari lokus dan situs yang bermuara pada budaya dan ekspresi visual masyarakatnya yang tercermin dari tumbuhnya para perupa baik secara akademis maupun otodidak yang melahirkan ekspresi seni seperti seni ukir tulang, seni ogoh ogoh, seni lukis, seni patung dan lain sebagainya. Maka apa yang dihadirkan dalam pameran ini tidak saja keragaman karya visual berdasarkan ekspresi personal, tetapi juga akumulasi kreativitas tiap perupa lintas generasi, disiplin, media, serta dimensi rupa.

Pameran ini merepresentasikan bagaimana dinamika kreativitas yang terlahir di Tampaksiring sebagai lokus budaya yang dikenal memiliki situs kesejarahan yang membentang dari era Bali kuno hingga kini. Dari Situs Arkeologis, Ritus Tradisi, Hingga Ekspresi Seni RupaTampaksiring sebuah lokus yang diapit dua sungai Pakerisan dan Petanu, sejak masa pra sejarah hingga masa Bali Kuno lokus ini telah memiliki peradaban dengan terlihatnya peninggalan situs arkeologis yang membentang di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan seperti Pura Pegulingan, Tirta Empul, Mangening, Gunung Kawi, Pura Pangukur Ukuran, Gua Garba Pejeng, Pura Kebo Edan dan lain sebagainya.

Bahkan dari masa prasejarah dengan adanya temuan Nekara Pejeng telah menunjukkan bagaimana peradaban juga telah berkembang di kawasan ini. Lalu berlanjut ke masa pra kemerdekaan pada tahun 1930-an, seni rupa juga telah berkembang di Tampaksiring. Rudolf Bonnet dalam catatanya di majalah Djawa, yang dikutip Adrian Vickers dalam buku Balinese Drawing and Painting bermula pada tahun 2010an dari fruit carving yang dijadikan elemen dekoratif dalam ritual yang selanjutnya menjadi elemen yang membuat kesemarakan ritual dan ditunggu-tunggu oleh warga. Bentuk-bentuk gebogan ini bervariasi antar banjar yang ada di Pejeng.

Budaya Rupa Sebagai Konten Pameran

Berdasarkan pada pembacaan atas keberagaman budaya rupa yang tumbuh dan berkembang di kawasan Tampaksiring inilah kenapa pameran Amarawati Art Community di Santrian Gallery kali ini menampilkan bentuk karya yang beragam. Tidak hanya seni lukis, ataupun seni patung tapi juga seni ukir, Instalasi hingga ogoh ogoh. Pameran ini ingin memotret keseharian para perupa Tampaksiring dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya sebagai perupa.

Ada yang menekuni seni ukir tulang, ada pula yang menekuni seni anyaman bambu, seni ogoh ogoh , tatto, fotografer, pelukis, pematung dan berbagai media yang ditekuni dalam keseharian mereka. Pameran ini juga menerabas sekat sekat usia dan generasi, sehingga menampilkan presentasi dari karya generasi tua, generasi muda bahkan kanak-kanak.Pameran ini juga ingin menegaskan bagaimana dalam seni rupa kontemporer sekat-sekat antara medium, genre, bentuk ekspresi visual telah cair, tidak ada lagi sekat sekat dan batas batas antara fine art dan craft.

Semua memiliki potensi yang sama dan ruang untuk diwacanakan sesuai dengan kesadaran seniman untuk menghayati artistik, medium hingga material. Maka tidak menutup kemungkinan jika karya seni ukir yang bersanding dengan seni lukis, danganan atau gagang keris ataupun tongkat komando berukir bisa bersanding dengan seni patung. Pameran ini sekali lagi adalah sebuah ruang perayaan atas budaya rupa bukan untuk ekslusifitas atau dikotomi fine art, craft, publik art. Tapi luruh dalam pembacaan sebagai budaya rupa yang tumbuh dari lokus dan situs.(pur)

Scroll to Top